...
Abstract Ref Number = APCP133
Invited Speakers
SLEEP DISORDER: MEDICAL PROBLEM AND COMPLICATION
Bambang Supriyatno UKK Respirologi PP IDAI
Gangguan tidur pada anak dapat terjadi akibat obstruksi (sumbatan) jalan napas atau tanpa obstruksi. Pada pembahasan makalah ini dibahas tentang gangguan tidur akibat obstruksi atau dikenal dengan obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). OSAS merupakan spectrum yang terberat dari gejala mendengkur dan dapat mengganggu proses tumbuh kembang karena dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Angka kejadian OSAS pada anak bervariasi antara 0,1-13,0% bergantung pada batasan diagnosis yang digunakan. Secara medis, OSAS ditandai dengan mendengkur yang bersifat habitual (frekuensi mendengkur >3 kali seminggu) dan adanya apnea atau hypopnea. Faktor risiko OSAS pada anak adalah disproporsi wajah, hipertrofi tonsil dan/atau adenoid, obesitas, atau sindrom tertentu seperti sindrom Down, sindrom Piere Robin, dan lain-lain. Diagnosis pasti OSAS berdasarkan pemeriksaan polisomnografi yaitu didapatkan nilai AHI (apnea hypopea index) >1 dengan klasifikasi OSAS ringan (AHI 1-5), sedang (AHI 5-10), dan berat (AHI >10). Pada keadaan polisomnografi tidak tersedia, diagnosis dapat menggunakan sarana alternative yaitu system skor, pengamatan selama tidur dengan menggunakan radio-tape, atau pulse oxymetri. Tatalaksana utama OSAS anak adalah tindakan tonsiloadenoidektomi. Beberapa terapi dapat dicoba yaitu dengan pemberian kortikosteroid intranasal dengan/atau tanpa montelukast, non invasive ventilation (NIV) berupa continuous positive airway pressure (CPAP). Komplikasi yang dapat timbul pada OSAS adalah gangguan neurobehaviour, gagal tumbuh, kelainan kardiovaskuler,kelainan respiratorik, enuresis, gangguan performans, kematian.Komplikasi neurobehavioral terjadi sekitar 31-84% dapat berupa keterlambatan perkembangan, sikap yang agresi/hiperaktif, penarikan diri dari kehidupan sosial, dan gangguan kognitif. Komplikasi gagal tumbuh dapat terjadi pada 27-56%. Kelainan kardiovaskular dapat berupa hiperkapnia, asidosis respiratorik, dan hipertensi pulmonal, ataupun kor pulmonal. Bentuk kelainan respiratorik dapat berupa infeksi respiratorik berulang, merasa sering tercekik, pneumonia aspirasi, dan gangguan uji fungsi paru. Enuresis dapat terjadi karena kelainan dalam regulasi hormon yang mempengaruhi cairan tubuh yang dapat membaik setelah penanganan yang baik. Anak dengan OSAS mempunyai performans akademik yang lebih rendah dalam hal nilai matematik, ilmu pengetahuan, dan berbicara.Komplikasi yang terberat adalah gagal napas yang dapat mengakibatkan kematian
Keywords: sleep breathing disorders, diagnosis, complication, children
Disclaimer: The Views and opinions expressed in the articles are of the authors and not of the journal.
Editor-In-Chief
Journal Office
Mid City Hospital, 3-A Shadman II
Jail Road, Lahore ,Pakistan
Associate Editor
Dr. Muhammad Faheem Afzal
Support & Help
e-Journal Administrator
Dr. Khalid Masud
Administrator